TUGAS PERTAMA
1.
Jelaskan
mengenai Distribusi Pendapatan Nasional dan Kemiskinan di Indonesia !
Masalah
besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparatis (ketimpangan)
distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan. Tidak meratanya distribusi memicu
terjadinya ketimpangan pendapatan yang merupakan awal dari munculnya kemiskinan. Membiarkan kedua
masalah tersebut berlarut-larut akan membuat keadaan masalah tersebut semakin
buruk, dan tidak jarang menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kondisi sosial
dan politik. Masalah kesenjangan dan kemiskinan tidak saja dihadapi negara yang
sedang berkembang, namun negara yang maju sekalipun tidak terlepas dari
permasalahan ini. Perbedaannya terletak pada proporsi atau besar kecilnya
tingkat kesenjangandan angka kemiskinan yang terjadi,serta kesulitan
mengatasinya yang dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu
negara. Semakin besar angka kemiskinan ,semakin tinggi pula tingkat kesulitan
mengatasinya. Negara maju menunjukan tingkat kesenjangan pendapatan dan angka
kemiskinan dan relative kecil dibanding negara yang sedang berkembang,dan untuk
mengatasinya terlalu sulit mengingat GDP dan GNP mereka relative tinggi.
Walaupun demikian masalah ini bukan hanya menjadi internal suatu negara,namun
telah menjadi permasalahan bagi dunia intenasional.
Bagi
upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh dunia internasional ,baik berupa
bantuan maupun pinjaman pada dasarnya merupakan upaya sistematis untuk
memperkecil kesenjangan pendapatan dan tingkat kemiskinan yang terjadi di
negara-negara miskin dan berkembang. Beberapa lembaga internasional seperti IMF
dan Bank Dunia serta lembaga-lembaga keuangan lainnya berperan dalam hal ini.
Kesalahan pengambilan kebijakan dalam pemanfaatan bantuan dan atau pinjaman tersebut
justru dapat berdampak buruk bagi struktur sosial dan perekonomian negara yang
bersangkutan.Perbedaan timbul karena adanya perbedaan dalam kepemilikan sumber
daya dan faktor produksi terutama kepemilikan barang modal (capital stock).
Pihak (kelompok masyarakat) yang memilki
faktor produksi yang lebih banyak akan memperoleh pendapatan yang lebih banyak
pula. Menurut teori neoklasik, perbedaan pendapatan dapat dikurangi melalui
proses penyesuaian otomatis,yaitu melalui proses “penetasan” hasil pembangunan
ke bawah (trickle down) dan kemudian menyebar sehingga menimbulkan keseibangan
baru. Penetapan pajak pendapatan /penghasilan akan memngurangi pendapatan
penduduk yang pendapatannya tinggi.Sebaliknya subsidi akan membantu penduduk
yang pendapatannya rendah asalkan tidak salah dalam pengalokasiannya.
2.
Terangkan bagaimana menganalisis tentang Distribusi
Pendapatan !
Di dalam suatu perekonomian pendapatan tercipta
melalui suatu kegiatan produksi. Kegiatan produksi berlangsung dengan bantuan
faktor-faktornya, seperti tanah, tenaga kerja, modal dan enterpreneur.
Di satu pihak ada perusahaan yang melakukan produksi dan di pihak lain ada
kelompok masyarakat selaku penyedia faktor-faktor produksi. Di dalam perputaran
kegiatan perekonomian, antara perusahaan dan rumah tangga (masyarakat) terjadi
arus timbal balik. Pihak rumah tangga menerima pembayaran atas harga dari
faktor produksi yang disediakan berupa gaji/upah, sewa bunga dan keuntungan.
Pihak perusahaan menerima pembayaran sebagai harga barang dan jasa yang
diproduksikan. Dari proses ini menimbulkan semacam pola pembagian pendapatan,
yang pada dasarnya dapat merupakan suatu ukuran tentang keadaan distribusi
pendapatan, yang dalam konteks teori ekonomi merupakan salah satu indikator
dalam pembangunan ekonomi seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Pada dasarnya ada dua pendekatan analitis di
dalam menilai distribusi pendapatan, yaitu:
a) Distribusi pendapatanfungsional yang berasal
dari teori produktivitas marginal, atau lebih dikenal sebagai distribusi balas
jasa input dalam teori ekonomi mikro,
b) Distribusi pendapatan antar kelompok, atau
distribusi besarnya pendapatan relatif terhadap total. Pendekatan ini merupakan
konsep empiris untuk menentukan atau menilai bagaimana pendapatan total
populasi telah terbagi diantara unit-unit penerima pendapatan.
Konsep distribusi pendapatan fungsional adalah
sumbangan dari para ahli ekonomi klasik yang tertarik pada distribusi
pendapatan di antara penduduk, dandengan anggapan yang disederhanakan yakni
pemilikan dari faktor-faktor produksi utama. Konsep dari pendekatan ini,
melacak pembagian pendapatan yang dihasilkan oleh kegiatan produksi yang
diikutsertakan dalam kegiatan tersebut. Perangkat analisisnya adalah fungsi
produksi serta alokasi faktor-faktor produksi yang diikutsertakan dalam fungsi.
Pendekatan ini jarang dipakai karena teori mendasarinya menilai hubungan antara
balas jasa input yang dipergunakan dengan output yang dihasilkan di dalam suatu
proses produksi spesifik. Pendekatan yang lazim digunakan adalah pendekatan
kedua, atau distribusi pendapatan antar kelompok. Pada pendekatan ini ada dua
cara yang lazim digunakan untuk langsung menilai status distribusi pendapatan
yaitu : a) penaksiran distribusi persentase pendapatan yang diterima
masing-masing golongan, b) penaksiran dengan indikator khusus. Penaksiran pertama
dilakukan dengan membagi kelompok-kelompok pendapatan ke dalam decile atau
quantile yang akan menggambarkan pola pembagian pendapatan di dalam
suatu kelompok masyarakat. Hasil dari pengelompokkan ini merupakan suatu dasar
untuk menggambarkan sebuah kurva Lorenz. Kurva ini memperlihatkan hubungan
kuantitatif yang sebenarnya (actual) antara persentase penerima
penghasilan dan persentase jumlah penghasilan yang mereka terima sebenarnya
dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun (Todaro, 2008).
Penaksiran yang kedua adalah menilai atau mengukur suatu
distribusi pendapatan berdasarkan indikator yang seringkali didekati dengan
cara statistik dan cara empiris. Cara statistik terdiri dari range, perbedaan
relatif, varian, Koefisien Pearson dan lainnya. Cara empiris meliputi Koefisien
Pareto, Koefisien Gini, Index Gibrat, Index Kuznets, Index Theil, Index Oshima
dan lainnya. Pendekatan lain yang seringkali digunakan untuk melengkapi kedua
pendekatan terdahulu, yakni pendekatan absolut dengan menggunakan ukuran batas
kemiskinan dan kebutuhan dasar manusia. Ukuran yang sering digunakan: kebutuhan
kalori dan protein, ukuran Sejogyo dan ukuran dari Bank Dunia.
Berbagai macam
alat pengukuran banyak dijumpai dalam mengukur tingkat distribusi pendapatan
penduduk. Diantara alat tersebut yang sangat umum dipergunakan adalah Gini
Indeks.
TUGAS KEDUA
1.
Apa yang dimaksud pertumbuhan dan pemerataan
dalam konteks pembangunan ekonomi Indonesia selama ini !
Tujuan
dari pembangunan adalah kemakmuran bersama. Pemerataan hasil pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi untuk menciptakan kemakmuran bersama merupakan
tujuan pembangunan yang ingin dicapai. Tingkat pertumbuhan yang tinggi tanpa
disertai pemerataan pembangunan hanyalah menciptakan perekonomian yang lemah
dan eksploitasi sumber daya manusia yang tinggi untuk menciptakan kemakmuran
bersama. Dari segi pendidikan, Indonesia masih mengalami masalah
ketidakmerataan pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan akan mengakibatkan
rendahnya produktivitas dan berakibat pula pada rendahnya tingkat pendapatan.
Kesenjangan tingkat pendidikan mengakibatkan adanya kesenjangan tingkat
pendapatan yang semakin besar. Pemerataan hasil pembangunan perlu diupayakan
supaya pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Pemerataan
pendidikan dan pemerataan fasilitas kesehatan merupakan salah satu upaya
penting yang diharapkan meningkatkan pemerataan hasil pembangunan dengan
menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Dan banyak hal yang dapat
dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk meningkatan pertumbuhan dan
pemerataan pembangynan Indonesia, sebagai contoh dengan mengefisiensikan
penerimaan pajak, meningkatkan perdagangan dengan luar negeri, meningkatkan
investasi langsung dan lain sebagainya.
2.
Apa
maksud dengan kemiskinan yang dikemukakan oleh beberpa ahli ?
Kemiskinan
Sebuah kata
kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu. Pada masa lalu umumnya
masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam
bentuk minimnya materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masakini mereka tidak
menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan
lainnya yang tersedia pada jaman modern.
Kemiskinan dalam perspektif ekonomi,
didefiniskan sebagai kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan. Sumber daya dalam konteks ini
tidak hanya aspek finansial, melainkan semua jenis kekayaan yang dapat
meningkatkan kesejahteraan dalam arti luas.
Kemiskinan sebagai suatu
penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang
berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika
Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada
era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropah. Pada masa itu kaum
miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya
sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya
juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap
penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.
Kaum miskin biasanya disebut dengan kelompok masyarakat yang memiliki subkultur tertentu yang berbeda dari golongan yang tidak miskin, seperti memiliki sikap fatalis, tidak mampu melakukan pengendalian diri, berorientasi pada masa sekarang, tidak mampu menunda kenikmatan atau melakukan rencana bagi masa mendatang, kurang memiliki kesadaran kelas, atau gagal dalam melihat faktor-faktor ekonomi seperti kesempatan yang dapat mengubah nasibnya
Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang sebuah kemiskinan :
Kaum miskin biasanya disebut dengan kelompok masyarakat yang memiliki subkultur tertentu yang berbeda dari golongan yang tidak miskin, seperti memiliki sikap fatalis, tidak mampu melakukan pengendalian diri, berorientasi pada masa sekarang, tidak mampu menunda kenikmatan atau melakukan rencana bagi masa mendatang, kurang memiliki kesadaran kelas, atau gagal dalam melihat faktor-faktor ekonomi seperti kesempatan yang dapat mengubah nasibnya
Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang sebuah kemiskinan :
Menurut, Oscar Lewis (1983)
orang-orang miskin adalah kelompok
yang mempunyai budaya kemiskinan sendiri yang mencakup karakteristik psikologis
sosial, dan ekonomi.
Menurut, Philips dan Legates (1981)
mengemukakan beberapa pandangan
tentang kemiskinan, yaitu pertama,
kemiskinan dilihat sebagai akibat dari kegagalan personal dan sikap tertentu
khususnya ciri-ciri sosial psikologis individu dari si miskin yang cendrung
menghambat untuk melakukan perbaikan nasibnya. Akibatnya, si miskin tidak
melakukan rencana ke depan, menabung dan mengejar tingkat pendidikan yang lebih
tinggi. Kedua, kemiskinan
dipandang sebagai akibat dari sub budaya tertentu yang diturunkan dari generasi
ke generasi.
Menurut, Flanagan (1994)
ada dua pandangan yang berbeda tentang
kemiskinan, yaitu culturalist
dan structuralist.Kulturalis cendrung menyalahkan kaum miskin, meskipun
kesempatan ada mereka gagal memanfaatkannya, karena terjebak dalam budaya
kemiskinan. Strukturalis beranggapan bahwa sumber kemiskinan tidak terdapat
pada diri orang miskin, tetapi adalah sebagai akibat dari perubahan priodik
dalam bidang sosial dan ekonomi seperti kehilangan pekerjaan, rendahnya tingkat
upah, diskriminasi dan sebagainya.
Menurut, BAPPENAS (1993)
mendefisnisikan keimiskinan sebagai
situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin,
melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada
padanya.
Menurut, Faturchman dan Marcelinus Molo (1994)
mendefenisikan bahwa kemiskinan adalah
ketidakmampuan individu dan atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya.
Menurut, Ellis (1994)
kemiskinan merupakan gejala
multidimensional yang dapat ditelaah dari dimensi ekonomi, sosial politik.
Menurut, Suparlan (1993)
kemiskinan didefinisikan sebagai suatu
standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi
pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang
umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Menurut, Reitsma dan Kleinpenning (1994)
mendefisnisikan kemiskinan sebagai
ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat
material maupun non material.
Menurut, Friedman (1979)
mengemukakan kemiskinan adalah
ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis kekuasaan sosial, yang
meliptui : asset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan
(pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi sosial politik yang dapat
dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial untuk
memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang
memadai, dan informasi yang berguna.
Masing-masing pandangan tersebut bukan hanya berbeda dalam konsep
kemiskinan saja, tetapi juga dalam implikasi kebijakan untuk menanggulanginya.
Jika dilihat dari argumentasi diatas
mayoritas kemiskinan yang hadir saat ini merupakan dominasi kemiskinan
struktural, tidak ada proses transformasi kelas dimana buruh tani tetaplah
menjadi buruh tani, begitu pula nelayan, pemulung, dan lain-lain. Jikapun ada
program penanggulangan kemiskinan sifatnya residual, proyek, insidental, tidak
berkelanjutan dan tidak mengena pada substansi atau menyentuh akar dari
kemiskinan.
Penanggulangan Kemiskinan
Teori ekonomi mengatakan bahwa untuk memutus mata rantai lingkaran kemiskinan dapat dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusianya, penambahan modal investasi, dan mengembangkan teknologi. Melalui berbagai suntikan maka diharapkan produktifitas akan meningkat. Namun, dalam praktek persoalannya tidak semudah itu. Lantas sapa yang dapat dilakukan?
Program-program kemiskinan sudah banyak dilaksanakan di berbagai negara. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat program penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antar negara bagian, memperbaiki kondisi permukiman perkotaan dan perdesaan, perluasan kesempatan pendidikan dan kerja untuk para pemuda, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi orang dewasa, dan pemberian bantuan kepada kaum miskin usia lanjut. Selain program pemerintah, juga kalangan masyarakat ikut terlibat membantu kaum miskin melalui organisasi kemasyarakatan, gereja, dan lain sebagainya.
Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan.
Sedangkan, P2KP sendiri sebagai program penanggulangan kemiskinan di perkotaan lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. Melalui partisipasi aktif ini dari masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak hanya berkedudukan menjadi obyek program, tetapi ikut serta menentukan program yang paling cocok bagi mereka. Mereka memutuskan, menjalankan, dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program. Nasib dari program, apakah akan terus berlanjut atau berhenti, akan tergantung pada tekad dan komitmen masyarakat sendiri.
Penanggulangan Kemiskinan
Teori ekonomi mengatakan bahwa untuk memutus mata rantai lingkaran kemiskinan dapat dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusianya, penambahan modal investasi, dan mengembangkan teknologi. Melalui berbagai suntikan maka diharapkan produktifitas akan meningkat. Namun, dalam praktek persoalannya tidak semudah itu. Lantas sapa yang dapat dilakukan?
Program-program kemiskinan sudah banyak dilaksanakan di berbagai negara. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat program penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antar negara bagian, memperbaiki kondisi permukiman perkotaan dan perdesaan, perluasan kesempatan pendidikan dan kerja untuk para pemuda, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi orang dewasa, dan pemberian bantuan kepada kaum miskin usia lanjut. Selain program pemerintah, juga kalangan masyarakat ikut terlibat membantu kaum miskin melalui organisasi kemasyarakatan, gereja, dan lain sebagainya.
Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan.
Sedangkan, P2KP sendiri sebagai program penanggulangan kemiskinan di perkotaan lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. Melalui partisipasi aktif ini dari masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak hanya berkedudukan menjadi obyek program, tetapi ikut serta menentukan program yang paling cocok bagi mereka. Mereka memutuskan, menjalankan, dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program. Nasib dari program, apakah akan terus berlanjut atau berhenti, akan tergantung pada tekad dan komitmen masyarakat sendiri.