JAKARTA - Angka ekspor
Indonesia di tahun 2013 terus tergelincir ke posisi lebih rendah dari tahun
2012. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Mei 2013 ekspor Indonesia
mengalami penurunan sebesar 4,49 persen dibanding periode yang sama pada Mei
2012.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada
bulan Januari-Mei 2013 mencapai angka USD76,25 miliar atau menurun 6,46 persen
dibanding periode yang sama tahun 2012. Penurunan ini juga terjadi pada ekspor
nonmigas yang mencapai USD62,78 miliar atau menurun 2,28 persen.
Di tengah kondisi tersebut BPS juga
mencatat, pada 2013 hingga Bulan Mei, China menjadi negara tujuan ekspor
nonmigas terbesar, dimana pada bulan Mei, ekspor ke negara ini mencapai USD1,72
miliar. Posisi ini kemudian disusul Jepang yang nilai ekspor mencapai USD1,44
miliar dan India USD1,32 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,94
persen.
Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa yang
meliputi 27 negara, nilai ekspor Indonesia mencapai USD1,44 miliar. Peningkatan
terbesar ekspor nonmigas Mei 2013, terjadi pada komoditas lemak dan minyak
hewan atau nabati sebesar USD311,9 juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi
pada benda-benda yang terbuat dari besi dan baja sebesar USD25,1 juta.
Di sisi lain, dari ekspor hasil industri periode
Januari-Mei 2013, didapat penurunan angka sebesar 1,55 persen dibanding periode
yang sama tahun 2012. Hal ini juga terjadi pada ekspor hasil tambang dan
komoditas lainnya yang ikut turun 5,63 persen.
Berita baiknya, di tengah keterpurukkan
tersebut, ekspor hasil pertanian Indonesia justru merambat naik sebesar 3,49
persen. Meski demikian, kondisi ini belum mampu mengangkat presentase ekspor
Indonesia yang berada di angka lebih rendah jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi memburuknya sektor ekspor Indonesia,
menurut Kepala BPS Suryamin, tidak hanya berhenti di Bulan Mei. Hingga
menjelang akhir tahun, aktivitas ekspor masih belum menunjukkan adanya
peningkatan. Dia menyampaikan, pada bulan September, nilai ekspor Indonesia
sempat mengalami kenaikan USD14,81 miliar atau sebesar 13,19 persen
dari bulan sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan tahun lalu, angkanya
justru menurun 6,85 persen.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia
Januari-September 2013 mencapai USD134,05 miliar atau menurun 6,25
persen dibanding periode yang sama tahun 2012. Untuk ekspor nonmigas September
2013, nilainya mencapai USD12,29 miliar atau naik 18,63 persen dibanding
Agustus 2013. Tapi dibanding ekspor September 2012 ini turun 6,35 persen.
Peningkatan terbesar ekspor nonmigas September 2013 juga masih terjadi pada
komoditas yang sama dengan Mei sebelumnya, yakni lemak dan minyak hewan
(nabati) sebesar USD351,2 juta. Sementara penurunan terbesar terjadi pada
timah senilai USD121 juta.
Ekspor nonmigas ke China pada September 2013
juga masih tetap mencapai angka terbesar yaitu USD1,62 miliar, disusul
Jepang USD1,39 miliar, Amerika Serikat USD1,30 miliar. Kontribusi ketiga negara
ini mencapai 35,01 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa tercatat sebesar
USD1,38.
Jika dilihat per sektor, ekspor hasil industri
pada periode Januari-September 2013 turun sebesar 4,22 persen dibanding periode
yang sama tahun 2012. Demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 2,34
persen. Sebaliknya, kenaikan terjadi pada ekspor hasil pertanian sebesar
1,65 persen.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Mei
2013 berada pada angka USD16.664,4 juta atau naik USD200,9 juta
atau 1,22 persen jika dibanding impor April 2013. Meningkatnya nilai impor
tersebut disebabkan oleh naiknya impor nonmigas sebesar USD393 juta (3,06 persen),
sedangkan impor migas mengalami penurunan sebesar USD192,1 juta (5,29 persen).
Secara lebih rinci penurunan impor migas
tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor minyak mentah dan gas
masing-masing sebesar USD383,0 juta (27,34 persen) dan USD4,2 juta (1,88
persen). Sementara itu, impor hasil minyak justru meningkat sebesar USD195,1
juta (9,73 persen).
Selama Januari−Mei 2013, nilai impor Indonesia
mencapai USD78.778,5 juta atau mengalami penurunan sebesar USD943,2 juta (1,18
persen) dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Yang menyedihkan,
penurunan ternyata terjadi pada impor nonmigas sebesar USD1.437,7 juta atau
2,33 persen, sedangkan impor migas justru mengalami peningkatan sebesar
USD494,5 juta atau 2,73 persen.
Selain itu, Indonesia mengalami peningkatan
impor migas disebabkan oleh naiknya impor minyak mentah sebesar USD1.040 juta
atau 21,94 persen. Sedangkan di sisi lain, impor hasil minyak dan gas menurun,
masing-masing sebesar USD276,1 juta (2,35 persen) dan USD269,4 juta (16,89
persen).
Pada September 2013, nilai impor Indonesia juga
naik mencapai 18,86 persen atau senilai USD15,47 miliar. Namun,
masih menurut Suryamin, secara kumulatif impor Januari-September 2013 mencapai
140,31 miliar dolar AS atau turun 1,17 persen dibanding periode yang sama 2012.
Adapun negara pemasok barang impor terbesar nonmigas masih didominasi China
dengan nilai USD2,7 miliar. Urutan berikutnya, Jepang (USD1,51 miliar),
lalu Singapura (USD0,88 miliar). (wdi)
Analisis : Angka ekspor Indonesia di tahun 2013 terus tergelincir ke
posisi lebih rendah dari tahun 2012. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada
Mei 2013 ekspor Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,49 persen dibanding
periode yang sama pada Mei 2012. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada bulan
Januari-Mei 2013 mencapai angka USD76,25 miliar atau menurun 6,46 persen
dibanding periode yang sama tahun 2012. Penurunan ini juga terjadi pada ekspor
nonmigas yang mencapai USD62,78 miliar atau menurun 2,28 persen. Sementara itu,
ekspor ke Uni Eropa yang meliputi 27 negara, nilai ekspor Indonesia
mencapai USD1,44 miliar. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Mei 2013, terjadi
pada komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar USD311,9 juta,
sedangkan penurunan terbesar terjadi pada benda-benda yang terbuat dari besi
dan baja sebesar USD25,1 juta.
SUMBER :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar