Liputan6.com, Jakarta : Rupiah memimpin
penguatan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang paling tidak untuk
sepekan terakhir. Penguatan ini muncul di tengah spekulasi penundaan pencabutan
program stimulus The Federal Reserves.
Nilai tukar rupiah tercatat menguat selama
lima hari berturut-turut, atau tertinggi sejak Juni 2009, akibat aksi pemodal
global yang kembali membeli saham setelah menjualnya sehari sebelumnya.
"Kita kemungkinan akan melihat rupiah
yang terus menguat dalam 1-2 bulan ke depan seiring keyakinan pasar bahwa The
Fed akan menunda pengurangan stimulus (tapering) sampai tahun depan," ujar
Senior Foreign-Exchange Strategist dari ANZ Banking Group Ltd, Khoon Goh
seperti dikutip laman Bloomberg, Jumat (25/10/2013).
Rupiah tercatat menguat 2,2% sejak 19
Oktober ke level 11.078 per dolar AS di pasar lokal. Penguatan ini mengalahkan
24 mata uang negara-negara berkembang.
Sementara kurs rupiah di pasar
Non-Delivered Forward untuk satu bulan ke depan ikut menguat 0,1% ke level
10.948 per dolar AS, atau 1,2% lebih kuat dibandingkan harga pasar spot.
Nilai kurs rupiah di pasar spot dalam
negeri mengalami rally 0,7% sementara perubahan kecil dialami di pasar kontrak
luar negeri.
Goh menilai, minat untuk membeli sejumlah
aset investasi di negara berkembang kini telah kembali pulih. "Investor
tengah mencari yield tambahan untuk membuatnya bertahan," ujarnya.(Shd)
ANALISIS :
Menurut saya ,
peningkatan Nilai Tukar Rupiah yang menguat pada lima hari berturut-turut itu
sangat bagus untuk negara kita yang sedang berkembang ini sampai-sampai
penguatan Nilai Tukar Rupiah kita dapat mengalahkan 24 mata uang di
negara-negara berkembang lainnya.Kita juga bisa memulihkan kembali minat-minat
investor untuk berinvestasi di
negara-negara berkembang.
SUMBER : http://bisnis.liputan6.com/read/729440/penguatan-rupiah-kalahkan-24-mata-uang-negara-berkembang
SUMBER : http://bisnis.liputan6.com/read/729440/penguatan-rupiah-kalahkan-24-mata-uang-negara-berkembang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar